Blogger Widgets
News Update :

Sejarah Remaja Masjid Indonesia

Selasa, 29 Mei 2012


Perkembangan remaja masjid di Indonesia diawali pada dekade tahun 1970-an, dimana waktu itu remaja masjid tumbuh bak jamur di musim hujan. Hal ini dilatarbelakangi oleh:

1.   Trend SANTRINISASI masyarakat ABANGAN pasca Pembubaran PKI tahun 1966.
2.   Meluasnya isu UKHUWAH ISLAMIYAH menjelang abad 14 Hijriyah.
3.   Pemberlakuan NKK-BKK Pasca Kerusuhan MALARI 1974, pada waktu itu muncul Jargon “BACK TO MOSQUE “ di kalangan aktifis kampus dan ormas kepemudaan Islam.

Fenomena berkembangnya remaja masjid menimbulkan tren keagamaan baru. Hal ini didukung dengan adanya menipisnya ikatan primordial sebagai ekses kebijakan Politik Orde Baru, sehingga memunculkan kecenderungan menyembunyikan identitas Golongannya. Bahkan dibeberapa basis NU dan Muhammadiyah; berdasar penelitian LITBANG DEPAG RI 1980, orang Islam di tempat tersebut mulai berpendangan “Ora sah NU-NU-an ora sah Muhammadiyah-Muhammadiyah-an sing penting NGAJI!”

Aksi massa DPW BKPRMI DIY, di Jalan Malioboro 25 Maret 2012
 
        Kompensasi menipisnya ikatan primordial tersebut memunculkan organisasi-organisasi keagaman baru yaitu Remaja Masjid, Majelis-majelis Taklim, Yayasan-yayasan Islam, Lembaga Dakwah, Islamic Center,  dlsb. Dampak lainnya adalah munculnya organisasi masjid kampus. Hal ini didorong oleh naluri bergiat memikirkan masyarakat dan bangsa para aktivis mahasiswa yang disalurkan melalui wadah masjid yang ada di kampus.
        Akhirnya muncul organisasi masjid kampus, seperti KARISMA (Masjid Salman Al-Farisi ITB), ARHA (Arif Rahman Hakim–UI), Al Ghifari IPB-Bogor, UGM Jamaah Shalahuddin (karena belum punya masjid di Gelanggang Mahasiswa), dlsb.
        Ide-ide cerdas untuk memperbaharui dan mengembangkan kegiatan masjid yang dilakukan para aktivis masjid kampus menjadi pendorong para aktivis kepemudaan di luar kampus, sehingga muncullah RISMA-RISMA (remaja Islam masjid) mulai dari kota sampai ke desa-desa. Seperti RISKA (Remaja Islam Masjid Sunda Kelapa-Menteng, Jakarta); Istiqomah (Citarum, Bandung); YISC Al-Azhar Kebayoran, Jakarta; RISMA Al-Falah, Surabaya, dll.
        Sebelum dekade tahun 1970-an tersebut, masjid-masjid hanya berisi orang orang yang sudah tua. Koor batuk-batuk menjadi ciri suasana masjid kala itu, Masjid hanya sebatas tempat parkir Sholat.
        Setelah para Pemuda–Remaja berkiprah mucullah suasana semarak di masjid-masjid, dan tumbuhlah kreatifitas dalam memakmurkan masjid. Muncullah keinginan memfungsikan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat sebagaimana pada Zaman Rasulullah Saw di Madinah.



*)     Materi presentasi Ustadz H.M. Jazir ASP , ”Sejarah Kebangkitan Remaja Masjid Indonesia”, pada pertemuan pengurus DPW BKPRMI DIY pada tanggal 20 Mei 2009 di Masjid Jogokaryan.
Share this Article on :

0 komentar:

Poskan Komentar

 

© Copyright BKPRMI D.I. Yogyakarta 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.